Sabtu, 21 Desember 2013

Motivasi

Teori Motivasi Freud
Teori Motivasi Freud, Freud menganggap manusia pada umumnya tidak  sadar mengenai kekuatan psikologis yang sebenamya membentuk perilaku mereka. Dia mefihat seseorang tumbuh dan mendesakkan banyak permintaan. Permintaan initidak pemah hilang dan dikendalikan secara sempuma; dorongan itu muncul dalam mimpl, terlontar sebagai kata-kata, dalam perilaku neurotik dan obsesif, atau akhimya dalam psikosis.
Peneliti motivasi mengumpulkan informasi mendalam dari  contoh-contoh kecil konsumen untuk mengungkapkan motif terdalam atas pemilihan produk mereka. Mereka menggunakan wawancara mendalam tidak langsung dan berbagai "tekniic: proyeld:if" agar ego  seseorang terungkap  -  teknik-teknik  seperti  asosiasi kata,  melengkapl kalimat,
interpretasi gambar, dan bermain drama. Peneliti motivasi memperoleh hasil yang menarik dan kadang-kadang merasa aneh mengenai apa yang mungkin ada dalam pikiran pembeli mengenai suatu pembelian tertentu.

Teori Motivasi Maslow
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.

 




• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
• Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya). Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.

Teori Motivasi Herzberg
Herzberg mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua factor  tentang motivasi (Gibson, et.al, 1997 : 197). Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas dan faktor yang membuat orang merasa puas. Menurut Herzberg dalam Robbins (2006 : 218) dan Safaria (2004:185) factor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja (motivator factor) terpisah dan berbeda dari faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpuasan kerja (hygiene factor). Kondisi- kondisi yang melingkupi pekerjaan seperti kualitas pengawasan gaji, kondisi kerja fisik dan keamanan kerja dicirikan sebagai factor-faktor hygiene.
Teori ERG Herzberg menurut Gibson, et.al (1997 : 101) adalah teori motivasi kepuasan yang mengatakan bahwa individu mempunyai kebutuhan-kebutuhan akan eksistensi (E), keterkaitan (R) dan pertumbuhan- (G). Kebutuhan eksistensi merupakan order tingkat rendah, termasuk didalamnya makan, minum, atau seks. Kebutuhan keterkaitan merupakan kebutuhan akan kasih saying, perhatian dan komunikasi. Kebutuhan pertumbuhan merupakan kebutuhan order tingkat tinggi (Safaria, T., 2004:188).


Referensi
Engel, James F., Blackwell, Roger D., dan Miniard, Paul W., Perilaku Konsumen, Alih bahasa Budiyanto, Binarupa Aksara, Jakarta, 1994
Peter, J. Paul dan Olson, Jerry C. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran, Alih bahasa Damos Sihombing, Penerbit Erlangga, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar